Oleh
Benny N.A Puspanegara
Pemerhati Kebijakan Hukum, Sosial, Publik dan Eksekutif Nasional AKKI
Lampung – Kalau hujan deras lagi-lagi bikin Bandar Lampung kebanjiran, jangan cuma anggap ini “musibah musiman”. Ini replay pahit dari kegagalan kepemimpinan yang sudah kronis, seperti film yang kita tonton berkali-kali tapi ending-nya selalu tragis. Jalan lumpuh, rumah tenggelam, nyawa melayang dan masih ada yang nanya, “kok bisa banjir lagi?” Ya, karena sistemnya gagal, pemimpinnya sibuk gaya “semau gue”, dan rakyat cuma jadi background noise di kota sendiri.
Jadi wajar kalau warga melontarkan sumpah serapah ke Walikota Eva Dwiana. Ini bukan sekadar emosional, ini protes kolektif yang sudah menumpuk, jeritan moral yang berulang: “KAMI BUTUH KESELAMATAN, BUKAN SANDIWARA!”. Tapi kalau gaya kepemimpinan tetap “aku paling benar, kota ini milikku”, ya jangan kaget kalau kritik dianggap spam, masukan masyarakat dianggap gangguan, dan DPRD cuma jadi penonton pasif. Contoh paling nyata: ketidakhadiran anggota dewan di acara buka puasa bersama simbol bahwa dialog konstruktif hanya jadi pajangan, bukan praktik.
Kalau setiap banjir masih menelan korban jiwa, jelas Salus Populi Suprema Lex Esto — keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi sudah hilang dari kamus kepemimpinan kota ini. Dan jangan lupa pelajaran klasik dari Bupati Pekalongan: sudah diingatkan bawahan berulang kali, tetap ngeyel, dan akhirnya KPK turun tangan dan menjewer habis. Ini blueprint buat siapa pun yang suka cuek, ngeyel, dan merasa paling benar: abaikan rakyat, abaikan masukan, abaikan hukum siap-siap dapat “belaian” lembaga pengawas.
Bandar Lampung butuh reformasi total. Tidak cukup kunjungan seremonial ala Instagram atau postingan story “saya peduli”. Yang dibutuhkan: audit drainase menyeluruh, transparansi anggaran, manajemen darurat profesional, dan keberanian mendengar rakyat, DPRD, akademisi, dan masyarakat sipil. Kepemimpinan sejati bukan soal baliho, headline media, atau lip service, tapi hadir di hati rakyat dan keputusan yang menyelamatkan mereka.
Kalau tidak, banjir tidak hanya akan menggenangi jalan dan rumah warga. Ia akan terus menggenangi kepercayaan publik. Dan ketika itu tenggelam, tidak ada pompaan retorika atau drama seremonial yang bisa menyelamatkannya. Tuhan memang punya caranya sendiri mengingatkan manusia lalai. Tapi dunia nyata? KPK punya caranya sendiri. Jangan sampai Bandar Lampung menjadi “episode berikutnya” dari peringatan itu.




