Fathoni
Dosen Pengajar Logika dan Penalaran Hukum, FH Unila
Dalam tradisi ilmu dan keilmuan, kita mengenal istilah *thulab* (طلاب), bentuk jamak dari *thalib* (طالب), yang secara harfiah berarti para pencari. Sebutan ini bukan sekadar label administratif bagi mereka yang duduk di bangku sekolah dan pendidikan, melainkan sebuah _makam_ (kedudukan) spiritual. Menjadi seorang murid berarti menjadi seseorang yang jiwanya senantiasa haus, yang langkah kakinya digerakkan oleh niat suci untuk **cari** (طلب) cahaya kebenaran di tengah gelapnya kebodohan. Namun, jika kita melihat potret sosiologis bangsa hari ini, terjadi sebuah tragedi semantik dan moral yang memilukan: banyak yang berangkat sebagai pencari ilmu, namun pulang sebagai **pencuri** hak-hak kemanusiaan. Atau memilih untuk menyerahkan lehernya kepada pemilik kuasa.
Pergeseran ini bermula dari kekeliruan dalam **cara** (طريقة) kita memandang pendidikan. Pendidikan saat ini sering kali sekadar menjadi mesin cetak ijazah, di mana proses belajar hanya dianggap sebagai prosedur mekanis untuk mendapatkan pengakuan formal, lain tidak! Ketika **cara** mendapatkan gelar dianggap lebih penting daripada **cara** mendewasakan batin, maka nilai-nilai kejujuran pun luntur. Para murid tidak lagi diajarkan **cara** menyelami kedalaman makna, melainkan **cara** menaklukkan sistem, mengerjakan soal-soal dengan hafalan. Akibatnya, kecerdasan intelektual tumbuh subur tanpa dibarengi dengan ketajaman nurani. Mirip kecerdasan yang sangat buatan.
Sering kali, niat awal untuk **cari** (طلب) hikmah bergeser menjadi sekadar mencari status dan kemapanan materi. Ilmu yang seharusnya menjadi alat untuk mengabdi justru dijadikan umpan untuk mencari posisi di panggung kekuasaan. Atau paling tidak, menjadikannya batu loncatan. Saat orientasi hidup hanya tertuju pada apa yang bisa didapat untuk kepentingan pribadi, maka ilmu pengetahuan tidak lagi menjadi imam yang menuntun, melainkan menjadi pembantu yang bisa diperintah demi nafsu. Inilah titik di mana sang pencari ilmu kehilangan kesuciannya dan mulai melirik jalan-jalan pintas yang gelap dan penuh duri yang siap melukai dan memerangkap.
Tragedi yang paling nyata terlihat ketika para pemegang gelar tinggi ini mulai menggunakan intelektualitas mereka untuk **curi** (سرقة) kesempatan dalam kesempitan rakyat. Mereka adalah pencuri yang terdidik; mereka tidak menggunakan linggis atau senjata, melainkan menggunakan pena, tanda tangan, dan manipulasi pasal-pasal. Mereka men-**curi** anggaran melalui celah birokrasi, men-**curi** keadilan melalui retorika yang menyesatkan, menjadi pelacur-pelacur ilmu, bahkan men-**curi** masa depan generasi berikutnya melalui kebijakan yang korup. Ilmu yang mereka miliki bukan lagi menjadi pelindung masyarakat, melainkan menjadi senjata predator untuk merampas apa yang bukan menjadi haknya. Menjadi kaya secara materi malah menjadi tujuan utama para mereka yang sepertinya mencari ilmu itu.
Pola perilaku ini akhirnya mengkristal menjadi sebuah **ciri** (khasais – خصائص) atau identitas yang sangat mengkhawatirkan bagi bangsa ini. Kita mulai melihat **ciri** kepemimpinan yang minim integritas, di mana kepintaran berbicara lebih dihargai daripada kejujuran dalam bekerja. **Ciri** utama dari kegagalan pendidikan kita adalah ketika seorang sarjana merasa bangga atas kekayaan yang ia dapatkan dari hasil **curi**-mencuri, seolah-olah kemahiran menipu adalah bagian dari kompetensi profesional. Jika **ciri** ini terus dianggap normal, maka martabat bangsa akan runtuh di hadapan sejarah.
Sejatinya, kita harus mengembalikan marwah para *thulab* (طلاب). Pendidikan harus kembali pada fungsinya untuk mendidik manusia yang tahu bagaimana **cara** bersyukur, yang tekun **cari** kebaikan bagi sesama, yang merasa hina jika harus men-**curi** sekecil apa pun hak orang lain, dan memiliki **ciri** kepribadian yang luhur (*al-akhlaq al-karimah* – الأخلاق الكريمة). Ilmu pengetahuan harusnya menjadi cahaya (*nur* – نور) yang menerangi jalan, bukan api yang membakar lumbung keadilan. Tanpa integritas, sang pencari ilmu hanyalah seorang pencuri yang sedang menunggu waktu untuk tertangkap oleh sejarahnya sendiri. Tabik
Natar, 4 Maret 2026




