Bandar Lampung – Semangat inovasi dan teknologi kembali ditunjukkan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Robotik Universitas Teknokrat Indonesia.
Ringkasan Berita:
• Tim UKM Robotik Universitas Teknokrat Indonesia mempersiapkan robot Autonomous Surface Vessel (ASV) untuk Kontes Kapal Indonesia 2026.
• Robot ASV tersebut mengintegrasikan teknologi otomasi, sensor, dan Internet of Things untuk navigasi mandiri.
• Tim yang terdiri atas lima mahasiswa ini melakukan riset dan pengembangan intensif selama satu setengah bulan.
Semangat inovasi dan teknologi kembali ditunjukkan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Robotik Universitas Teknokrat Indonesia.
Memasuki kompetisi robotik 2026, tim yang dibimbing Ridwan Mahenra, S.Kom., M.C.S. kembali mempersiapkan robot Autonomous Surface Vessel (ASV) untuk berlaga di ajang Kontes Kapal Indonesia (KKI).
Beranggotakan lima mahasiswa, tim ini terdiri atas:
1. Rafly Iqbal Maulana – Leader and Electrical
2. Kristian Anando – Designer and Drafter
3. Yudistyo Herlambang – Programmer Software
4. Eki Ardiansyah – Mechanical
5.
Alfian Eka Cahyo – Programmer Hardware
Bagi tim Robotik Universitas Teknokrat Indonesia, keikutsertaan pada kompetisi tahun ini bukan sekadar mengejar gelar juara.
Mereka ingin membuktikan bahwa mahasiswa mampu mengembangkan sistem robot yang dapat bekerja secara mandiri dengan memadukan robotika, otomasi, sensor, dan Internet of Things (IoT).
“Robot kapal ini memadukan robotika, otomasi, sensor, dan Internet of Things (IoT). Robot ini mampu melewati rintangan yang ada di air secara otomatis,” ungkap Ridwan Mahenra Jumat (21/8/2026).
Fokus pada Teknologi Autonomous
Pemilihan kategori ASV bukan tanpa alasan. Sejak awal mengembangkan robotika, tim UKM Robotik Universitas Teknokrat Indonesia memang menaruh perhatian besar pada sistem autonomous.
Berbeda dengan kategori yang lebih menitikberatkan pada aspek desain atau kendali manual, ASV menantang mahasiswa untuk membuat kapal yang mampu menjalankan misi secara otomatis.
“Riset kami dari awal memang fokus pada autonomous system. Jadi robotika, otomasi, dan IoT kami jadikan satu dalam sistem robot,” jelas Ridwan Mahenra.
Robot yang dikembangkan harus mampu bergerak di permukaan air tanpa dikendalikan secara langsung oleh operator.
Dalam lintasan kompetisi, robot akan menghadapi arena yang telah disiapkan juri dan harus melewati sejumlah rintangan berupa bola-bola pembatas.
Selain navigasi, robot juga dituntut menjalankan misi tertentu menggunakan sistem sensor yang telah diprogram sebelumnya.
Bukan Robot Baru, tetapi Terus Berevolusi
Robot ASV yang digunakan tim bukanlah robot yang dibuat dari nol setiap tahun. Konsep dasarnya terus dikembangkan melalui proses inovasi dan penyempurnaan.
Setiap tahun, desain kapal dapat berubah menyesuaikan tema dan misi kompetisi. Sementara itu, sistem elektronik, sensor, pemrograman, dan perangkat pendukung terus diperbarui agar performanya semakin baik.
Salah satu sensor yang digunakan adalah ultrasonik. Sensor tersebut bekerja dengan memancarkan gelombang dan membaca kembali pantulannya untuk memperkirakan jarak objek.
Informasi tersebut kemudian diproses dalam program agar robot dapat menentukan respons saat berada di lintasan.
Tim juga memanfaatkan sensor dan sistem navigasi lainnya untuk membantu robot menjalankan misi secara autonomous.
“Kalau desainnya memang kami ganti setiap tahun sesuai tema. Tetapi sistemnya terus kami perbarui. Misalnya sensor yang sebelumnya menggunakan tipe tertentu, kemudian kami tingkatkan dengan sensor yang lebih baik,” ungkapnya.
Untuk desain kapal tahun ini, tim mengambil inspirasi dari bentuk kapal penjaga pantai Amerika Serikat, kemudian menyesuaikannya dengan kebutuhan kompetisi.
Dibangun dalam Waktu Sekitar Satu Setengah Bulan
Di balik kemampuan robot untuk bergerak secara mandiri, terdapat proses panjang yang harus dilalui lima mahasiswa tersebut.
Pengembangan robot tahun ini berlangsung sekitar satu setengah bulan, mulai dari tahap perancangan, pembuatan komponen, integrasi sistem, pemrograman hingga pengujian.
Tahap trial and error menjadi salah satu bagian paling menguras tenaga. Setelah seluruh sistem dirakit dan program berjalan, robot harus kembali diuji untuk memastikan seluruh komponen dapat bekerja secara bersamaan.
Masalah bisa muncul sewaktu-waktu, mulai dari tegangan yang tidak sesuai, sensor yang tidak membaca objek dengan tepat, hingga sistem navigasi dan GPS yang mengalami kendala.
Pengujian GPS juga menjadi tantangan tersendiri karena perangkat membutuhkan kondisi luar ruangan untuk memperoleh sinyal satelit secara optimal.
“Kadang ketika semua program sudah berjalan dan sistem terlihat aman, saat diuji di embung atau tempat terbuka justru muncul trouble. Itu yang biasanya cukup menguras tenaga,” kata Rafly Iqbal salah satu anggota tim.
Karena itu, proses pengujian dilakukan berulang kali. Sebagian pengujian sensor bahkan dapat dilakukan di darat sebelum robot benar-benar diturunkan ke air.
Pengalaman Pertama, Tantangan Besar
Menariknya, sebagian anggota tim yang kini mengembangkan robot ASV masih tergolong mahasiswa baru dalam dunia robotika.
Mereka saat ini berada di semester empat dan mendapatkan pengalaman langsung melalui bimbingan senior serta pembimbing UKM.
Pembagian tugas dilakukan berdasarkan minat dan kemampuan masing-masing anggota. Mahasiswa yang memiliki ketertarikan pada pemrograman diarahkan menangani software atau hardware, sementara anggota yang lebih tertarik pada desain fokus pada perancangan dan mekanik.
Model tersebut membuat setiap anggota dapat bekerja sesuai passion masing-masing sekaligus saling melengkapi dalam satu tim.
Dari Gagal Lolos hingga Meraih Prestasi Nasional
Perjalanan UKM Robotik Universitas Teknokrat Indonesia di KKI juga tidak langsung berbuah prestasi.
Pada 2023, tim belum berhasil lolos karena kendala waktu persiapan. Namun, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran penting bagi tim.
Setahun kemudian, kerja keras mulai membuahkan hasil. Pada KKI 2024, Universitas Teknokrat Indonesia berhasil meraih Juara Harapan 1 pada kategori Autonomous Surface Vessel (ASV) dan Juara 3 pada kategori Electric Remote Control (ERC).
Pada 2025, tim kembali mengikuti dua divisi, yakni ERC dan ASV. Meski belum berhasil meraih gelar juara, pengalaman tersebut menjadi modal untuk kembali melakukan evaluasi dan pengembangan robot.
Kini, pada 2026, tim memilih kembali fokus pada kategori ASV dengan membawa berbagai pembaruan pada desain dan sistem autonomous.
Regenerasi Jadi Kunci Keberlanjutan
Tidak hanya mengejar prestasi, UKM Robotik Universitas Teknokrat Indonesia juga memiliki sistem regenerasi yang menjadi bagian penting dari keberlangsungan tim.
Satu tim biasanya terdiri atas lima mahasiswa. Setelah menyelesaikan satu periode kompetisi, anggota senior memiliki tanggung jawab untuk membimbing mahasiswa baru agar mampu melanjutkan pengembangan robot pada tahun berikutnya.
“Regenerasi memang menjadi bagian dari sistem kami. Mereka yang sekarang mengikuti lomba nantinya akan melatih dan memimpin anggota baru,” jelas Ridwan.
Pola tersebut membuat pengetahuan mengenai desain, mekanik, elektronika, pemrograman, dan sistem autonomous tidak berhenti pada satu generasi.
Tradisi Prestasi di Dunia Robotika
Kiprah UKM Robotik Universitas Teknokrat Indonesia sebenarnya telah memiliki rekam jejak panjang.
Selain prestasi pada Kontes Kapal Indonesia, tim robotik juga pernah menorehkan prestasi pada berbagai kompetisi nasional hingga tingkat ASEAN.
Di antaranya, Juara 1 nasional ROV pada Ajang Technogine 2019, Juara 3 ASEAN pada EXPLORE 2019, serta Juara 3 nasional Kontes ROV 2020.
Pada Kontes Robot Indonesia (KRI), Universitas Teknokrat Indonesia juga pernah meraih Juara 1 Wilayah I KRTMI pada 2022 dan Juara 2 Wilayah I KRSBI Humanoid pada tahun yang sama. Pada 2024, tim Robot Tematik AI & Computer Vision berhasil meraih Juara 2 nasional.
Sementara itu, pada Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI), prestasi juga terus berkembang. Pada 2024, tim mencatat posisi Top 5 VTOL, Top 8 Racing Plane, dan Top 10 Fixed Wing.
Prestasi kemudian meningkat pada 2025 dengan diraihnya Juara 1 Wilayah I pada divisi VTOL (Vertical Take-Off and Landing).
Deretan prestasi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan teknologi robotika di Universitas Teknokrat Indonesia tidak hanya berfokus pada satu jenis robot.
Membawa Harapan Baru di 2026
Dengan pengalaman dari kompetisi sebelumnya, inovasi desain, pembaruan sensor, serta fokus pada sistem autonomous, tim ASV UKM Robotik Universitas Teknokrat Indonesia kini kembali membawa misi besar pada kompetisi 2026.
Bagi lima mahasiswa tersebut, setiap pengujian bukan hanya tentang mencari kesalahan pada robot, tetapi juga menjadi proses belajar untuk menghasilkan sistem yang semakin matang.
Dari kegagalan tidak lolos pada 2023, meraih dua prestasi pada 2024, menghadapi tantangan pada 2025, hingga kembali bertarung pada 2026, perjalanan tim ini memperlihatkan satu hal: robot yang hebat tidak lahir dalam sekali percobaan, melainkan dari keberanian untuk terus memperbaiki kesalahan. (*)







