JAKARTA – Listrik adalah kebutuhan dasar dan nyawa perekonomian nasional. Selama dua dekade terakhir, kinerja PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) selalu menjadi indikator kesehatan pembangunan infrastruktur Indonesia.
Namun, data lengkap yang dihimpun dari laporan tahunan PLN, Bank Dunia, Komisi VII DPR RI, serta audit independen menunjukkan satu fakta yang mengejutkan: masa jabatan Direktur Utama Darmawan Prasodjo (2021–sekarang) adalah periode dengan tingkat kegagalan sistem kelistrikan tertinggi dan terburuk dalam sejarah pencatatan data sejak tahun 2006.
Berikut adalah laporan lengkap dari direktur utama PLN yang dihimpun dari berbagai sumber:\
1. Era Kestabilan Tinggi PLN(2006–2011): Tidak ada pemadaman skala besar.
Pada masa kepemimpinan Eddie Widiono (2006–2008) dan Fahmi Mochtar (2008–2009), sistem Jawa–Bali mencapai tingkat keandalan tertinggi sepanjang sejarah.
SAIDI: Hanya 120–200 menit (2–3,3 jam per tahun)
_SAIF_I: 1,2–1,8 kali gangguan per tahun
Catatan Penting: Tidak tercatat satu pun kejadian pemadaman total atau keruntuhan jaringan meluas. Pasokan sangat terjamin, pemeliharaan berjalan teratur, dan keseimbangan antara pembangkitan serta permintaan terjaga ketat.
Kinerja ini diteruskan oleh Dahlan Iskan (2009–2011) yang memimpin program pembangunan besar-besaran 10.000 Megawatt. Meskipun kapasitas daya ditambah secara masif, keandalan tetap terjaga sangat baik dengan SAIDI di kisaran 180–240 menit. Pada masa ini, publik hampir tidak pernah mendengar berita pemadaman yang meluas dan lama.
2. Awal Penurunan Kualitas (2011–2014): Tanda-tanda Jaringan Menua
Di bawah kepemimpinan Nur Pamudji (2011–2014), mulai terlihat gejala penurunan kinerja.
SAIDI: Meningkat menjadi 300–450 menit (5–7,5 jam per tahun)
-SAIFI_: Naik menjadi 2,2–3,0 kali gangguan
Kejadian: Terjadi dua kali pemadaman parsial di Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan durasi hingga 3 jam.
Analisis: Masalah utamanya adalah usia aset jaringan yang mulai menua dan keterlambatan pembaruan infrastruktur, namun belum ada kegagalan sistem total yang mengancam seluruh wilayah.
3. Masa Penurunan Kualitas Layanan Sebelum Pemulihan (2014–2019): Bencana Agustus 2019
Masa jabatan Sofyan Basir (2014–2019) dikenal sebagai masa penurunan tajam kualitas layanan sebelum era Darmawan Prasodjo.
SAIDI: Melonjak drastis menjadi 720–1.136 menit (12–19 jam per tahun)
SAIFI: Mencapai 5,8–11,5 kali gangguan per tahun
Kejadian Terburuk: 4 Agustus 2019, pemadaman total seluruh Jawa–Bali selama 6–9 jam, melumpuhkan Jakarta, Bandung, Surabaya, dan seluruh wilayah. Lebih dari 14 juta pelanggan terdampak.
Masalah: Anggaran pemeliharaan tertunda, proyek pembangkitan macet, dan bermunculan kasus hukum korupsi. Ini dianggap krisis kelistrikan terbesar saat itu.
Namun, masa ini masih ada harapan perbaikan.
4. Saat Zulkifli Zaini (2019–2021) menggantikan posisi tersebut, perbaikan segera dilakukan.
SAIDI: Turun kembali menjadi 400–500 menit (6,7–8,3 jam)
Prestasi: Berhasil menstabilkan kembali sistem pasca bencana 2019, tidak ada lagi keruntuhan total, dan hanya satu kali terjadi gangguan kecil di Bali selama 1 jam pada tahun 2020. Keandalan pulih secara signifikan.
5. Era Darmawan Prasodjo (2021–sekarang): Rekor Kegagalan Terparah Sepanjang Sejarah PLN
Sejak Darmawan Prasodjo menjabat pada tahun 2021, grafik kinerja PLN tidak lagi sekadar menurun, melainkan jatuh ke titik terendah yang belum pernah tercatat dalam 20 tahun sejarah. Data menunjukkan bahwa apa yang terjadi saat ini jauh lebih parah dibandingkan masa-masa sulit sebelumnya.
SAIDI Tahun 2025: 1.450 menit atau setara 24,2 jam per tahun → REKOR TERTINGGI SEJAK TAHUN 2006.
“Artinya, setiap pelanggan rata-rata mengalami mati lampu selama lebih dari satu hari penuh dalam setahun,” sebut Koordinator Nasional Relawan Listrik Untuk Negeri (Re-LUN), Teuku Yudhistira di Jakarta, Kamis (18/6/2026).
.
SAIDI Tahun 2024: PLN mengaku 910 menit, namun audit independen membuktikan angka asli 1.280 menit (21,3 jam). Perbedaan angka ini terjadi karena manajemen mengecualikan pemadaman besar dari perhitungan statistik, praktik yang tidak pernah dilakukan direktur-direktur sebelumnya.
SAIFI: 4,2–7,8 kali gangguan per tahun, dengan frekuensi kejadian besar makin sering.







