Oleh: Benny N.A Puspanegara
Pemerhati Kebijakan Hukum, Sosial, Publik dan Eksklusif Nasional AKKI
“Ini bukan sekadar ironi. Ini tamparan telak bagi logika publik dan penghinaan sunyi terhadap dunia pendidikan. Kampus adalah tempat mencetak generasi emas bangsa, tempat akal sehat dibangun, moral diajarkan, dan akhlak dimuliakan. Tetapi hari ini, bahkan gerbang institusi pendidikan pun diduga tak steril dari aroma permainan anggaran. Seolah-olah korupsi sekarang sudah naik level: bukan lagi sembunyi di lorong gelap birokrasi, tapi mulai percaya diri nongkrong di pintu gerbang kampus.
Saya benar-benar mencibir kondisi ini. Bagaimana mungkin gerbang lama yang dibangun dengan anggaran jauh lebih kecil masih berdiri gagah dan bermartabat, sementara gerbang baru bernilai Rp3,7 miliar justru terlihat seperti proyek gagal move on semen kasar, belum selesai, dan menyisakan tanda tanya sebesar gapuranya sendiri. Publik akhirnya bertanya dengan sinis: ini membangun gerbang universitas atau sedang membangun monumen ketidakwarasan tata kelola anggaran?
Jangan sampai proyek negara hari ini hanya kuat di desain 3D, rendering komputer, proposal tebal, dan seremoni foto groundbreaking, tetapi melempem ketika disentuh realitas lapangan. Karena rakyat sekarang tidak lagi mudah silau oleh banner proyek dan pidato pencitraan. Era ‘asal ada plang proyek lalu dianggap prestasi’ sudah lewat. Publik sudah upgrade sistem operasi berpikirnya.
Yang paling menyakitkan, ini terjadi di lembaga pendidikan Islam. Tempat yang seharusnya menjadi mercusuar integritas moral dan pusat pembentukan karakter bangsa. Tetapi yang terlihat justru paradoks memalukan: mahasiswa diajarkan nilai kejujuran di ruang kuliah, sementara di luar ruang kelas mereka menyaksikan dugaan proyek mangkrak bernilai miliaran rupiah berdiri seperti simbol bisu kegagalan etika pengelolaan negara.
Kalau benar anggaran miliaran itu tidak berbanding lurus dengan kualitas fisik bangunan, maka publik wajar curiga. Karena dalam logika sederhana rakyat kecil pun, uang Rp3,7 miliar itu bukan nominal receh yang bisa hilang seperti saldo e-wallet habis karena salah klik flash sale tengah malam. Ini uang negara. Uang rakyat. Uang hasil keringat masyarakat yang bayar pajak sambil hidup susah menghadapi tekanan ekonomi.
Dan saya melihat persoalan bangsa ini semakin berbahaya ketika proyek mangkrak mulai dianggap biasa, ketika ketidakwajaran dianggap lumrah, dan ketika publik perlahan dipaksa terbiasa melihat pemborosan tanpa rasa malu. Inilah fase paling mengerikan dalam tata kelola negara: normalisasi kebusukan administratif.
Bangsa ini tidak akan pernah benar-benar maju kalau pembangunan pendidikan masih diperlakukan seperti ladang eksperimen elite proyek. APBN bukan ATM kelompok tertentu. Negara bukan perusahaan keluarga. Dan kampus bukan panggung bancakan berkedok pembangunan.
Hari ini rakyat sudah semakin cerdas, semakin kritis, dan semakin sulit dibohongi kosmetika pencitraan. Mereka bisa membedakan mana pembangunan yang lahir dari integritas dan mana yang hanya cantik di dokumen tender tetapi menyedihkan di lapangan. Jangan sampai kampus hanya megah di brosur penerimaan mahasiswa baru, tetapi memalukan saat diuji transparansi.
Kalau dugaan korupsi benar terjadi, maka kerusakannya bukan hanya soal kerugian keuangan negara. Yang lebih fatal adalah kerusakan pesan moral kepada generasi muda. Mahasiswa akan belajar satu kenyataan pahit: bahwa di negeri ini, bahkan tempat yang mengajarkan akhlak pun masih bisa digerogoti mental rakus anggaran.
Dan saya ingin mengingatkan, ketika gerbang kampus saja bisa mangkrak dengan anggaran miliaran, maka publik berhak takut membayangkan bagaimana kualitas pengawasan proyek-proyek lain yang tidak terlihat kamera. Sebab yang sedang runtuh mungkin bukan hanya bangunan fisiknya, tetapi juga rasa malu, tanggung jawab, dan integritas dalam mengelola amanah negara.
Kalau kondisi seperti ini terus dibiarkan, jangan salahkan rakyat ketika mereka mulai percaya bahwa sebagian proyek negara hari ini lebih mirip konten ilusi: mewah di presentasi, viral di media sosial, tetapi kosong kualitas di kenyataan.”




