UTI  

Mahasiswa FEB UTI Ciptakan LARUMIE, Mie Sehat Ramah Lingkungan Berbasis Singkong Lokal

Bandar Lampung – Di tengah tingginya konsumsi mie instan di Indonesia dan meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak kesehatan serta limbah plastik dari kemasan sekali pakai, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) menghadirkan inovasi pangan kreatif dan berkelanjutan bernama LARUMIE.

Produk inovatif tersebut merupakan mie sehat berbahan dasar singkong lokal yang dikembangkan menggunakan teknologi edible coating, yaitu metode pelapisan bumbu langsung pada mie tanpa menggunakan kemasan plastik tambahan. Inovasi ini menjadi solusi alternatif pangan modern yang lebih sehat, praktis, dan ramah lingkungan.

LARUMIE dikembangkan oleh empat mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Teknokrat Indonesia, yakni Adelina Safitri, Deni Setiawan, Yayang Evina Syaputri, dan Yuzika Fitriya. Mereka memanfaatkan potensi singkong sebagai komoditas unggulan lokal Lampung untuk diolah menjadi produk pangan inovatif bernilai ekonomi tinggi.

Di sela aktivitas kampus yang padat, tim mahasiswa tersebut tampak antusias memperkenalkan produk LARUMIE beserta bahan olahan singkong kepada sivitas akademika Universitas Teknokrat Indonesia pada Rabu, 13 Mei 2026.

Salah satu pengembang produk, Yayang Evina Syaputri, menjelaskan bahwa inovasi ini lahir dari keresahan terhadap pola konsumsi masyarakat yang masih tinggi terhadap makanan instan namun minim alternatif sehat dan berkelanjutan.

“Kami ingin menghadirkan produk mie instan yang lebih sehat sekaligus ramah lingkungan. Singkong dipilih karena mudah diperoleh, memiliki kandungan karbohidrat yang baik, dan potensial dikembangkan menjadi produk pangan inovatif,” ujar Yayang.

Menurutnya, pemanfaatan singkong lokal juga menjadi bentuk dukungan terhadap ketahanan pangan nasional dan pemberdayaan potensi daerah.

Proses produksi LARUMIE dimulai dari pemilihan singkong berkualitas yang kemudian dibersihkan, dipotong, dan diolah menjadi tepung sebagai bahan dasar mie. Tepung singkong selanjutnya dicampur dengan bahan alami lain tanpa penggunaan pengawet berlebihan agar tetap aman dan sehat dikonsumsi.

Setelah adonan terbentuk, proses pencetakan mie dilakukan menggunakan mesin khusus hingga menghasilkan tekstur mie yang lembut dan elastis.

Namun, keunggulan utama LARUMIE terletak pada teknologi edible coating yang diterapkan. Berbeda dengan mie instan konvensional yang menggunakan bumbu dalam kemasan plastik terpisah, LARUMIE menghadirkan bumbu yang langsung menyatu pada permukaan mie melalui lapisan khusus berbahan pangan.

“Inovasi edible coating menjadi nilai utama produk kami karena mampu menggabungkan aspek kesehatan, efisiensi, dan kepedulian terhadap lingkungan,” jelas Yuzika Fitriya yang fokus dalam pengembangan teknologi produk.

Setelah proses pelapisan selesai, mie dikeringkan untuk meningkatkan daya tahan produk sebelum akhirnya dikemas menggunakan desain modern dan menarik. Seluruh tahapan produksi dilakukan secara higienis guna menjaga kualitas dan keamanan pangan.

Inovasi mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia ini pun mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk dosen pembimbing sekaligus Wakil Dekan III FEB Universitas Teknokrat Indonesia, Febrian Eko Saputra, S.M., M.S.M.

Menurutnya, LARUMIE menjadi contoh nyata kreativitas mahasiswa dalam menjawab tantangan kesehatan dan lingkungan melalui inovasi berbasis kewirausahaan.

“Produk ini menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya mampu berwirausaha, tetapi juga mampu menghadirkan solusi konkret terhadap persoalan kesehatan dan lingkungan. Pemanfaatan singkong lokal yang dipadukan dengan teknologi edible coating membuktikan inovasi sederhana dapat memiliki nilai ekonomi sekaligus keberlanjutan,” ujarnya.

Respon positif juga datang dari mahasiswa yang mencoba langsung produk tersebut dalam sesi uji rasa. Banyak yang menilai LARUMIE memiliki rasa unik serta lebih praktis dibandingkan mie instan pada umumnya.

“Rasanya enak dan berbeda dari mie biasa,” ujar Diego, salah satu mahasiswa yang mencoba produk tersebut.

“Bumbunya sudah menyatu, jadi lebih praktis dan tidak repot,” tambah Aziz, mahasiswa lainnya.

Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. HM. Nasrullah Yusuf, S.E., M.B.A., menyampaikan apresiasi atas kreativitas mahasiswa dalam mengembangkan inovasi pangan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat masa kini.

“Kami bangga mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia mampu menghadirkan inovasi yang menggabungkan kreativitas, teknologi, dan semangat kewirausahaan dalam satu produk yang bermanfaat bagi masyarakat. LARUMIE membuktikan bahwa generasi muda mampu menjadi agen perubahan melalui karya nyata,” ujar Nasrullah Yusuf.

Ia menambahkan bahwa kampus akan terus menjadi ruang tumbuh bagi mahasiswa untuk menciptakan solusi inovatif terhadap berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. H. Mahathir Muhammad, S.E., M.M., menegaskan bahwa kampus berkomitmen mendorong mahasiswa agar terus berani berinovasi dan menghasilkan karya yang memiliki dampak luas bagi masyarakat.

“Melalui LARUMIE, mahasiswa FEB Universitas Teknokrat Indonesia mengajak masyarakat untuk mulai beralih pada produk pangan yang lebih sehat, inovatif, dan ramah lingkungan. Ini merupakan langkah kecil dari kampus yang membawa harapan besar bagi masa depan pangan berkelanjutan di Indonesia,” kata Mahathir.

Ia juga mengajak generasi muda, khususnya lulusan SMA/SMK, untuk bergabung bersama Universitas Teknokrat Indonesia sebagai Kampus Sang Juara yang terus mendukung pengembangan kreativitas dan inovasi mahasiswa.

Inovasi LARUMIE juga sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penyediaan alternatif pangan sehat, SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan teknologi pangan kreatif, SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pengurangan limbah plastik, serta SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim melalui penerapan konsep ramah lingkungan dalam produksi pangan. Melalui inovasi ini, Universitas Teknokrat Indonesia terus menunjukkan kontribusinya dalam mendukung pembangunan berkelanjutan berbasis inovasi dan pemberdayaan potensi lokal. (uti)