Cak Imin Singgung NU Terpuruk karena Alumni HMI, Mantan Ketum PB HMI Balik Bersuara

JAKARTA – Pernyataan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin mengenai kondisi Nahdlatul Ulama (NU) memantik polemik di tengah pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur. Sorotan muncul setelah Cak Imin mengaitkan keterpurukan NU dengan kepemimpinan yang berasal dari kalangan alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

‎Pernyataan itu disampaikan Cak Imin dalam forum bedah buku Dari Pergerakan Menuju Kepemimpinan: Jejak Langkah Alumni PMII di Panggung Politik, Akademik, dan Kemasyarakatan. Dalam forum tersebut, ia menyoroti kondisi NU selama lima tahun terakhir dan mengajak kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) serta warga NU untuk melihat persoalan internal organisasi secara terbuka.

‎“Yang jelas NU sudah terpuruk karena dipimpin oleh alumni HMI, kira-kira begitulah,” ujar Cak Imin dalam forum tersebut. Pernyataan itu kemudian dikaitkan dengan latar belakang Gus Yahya, yang pernah menjadi Ketua Umum HMI Komisariat FISIPOL UGM Cabang Yogyakarta.

‎Respons datang dari Anas Urbaningrum, mantan Ketua Umum PB HMI periode 1997–1999. Melalui akun X miliknya, Anas menyentil Cak Imin dengan kalimat yang terdengar ringan, tetapi menyimpan kritik terhadap cara penyampaian pernyataan tersebut. “Kok kayak kekurangan kosa kalimat aja sampeyan @cakimiNOW,” tulis Anas. Ia juga menyebut Cak Imin sebagai politisi, aktivis, dan pemimpin yang memiliki pengalaman luas.

‎Anas kemudian menutup sindirannya dengan pesan persahabatan. “Sehat, waras dan sukses terus ya, Cak. Salam paseduluran,” tulisnya. Cak Imin membalas unggahan tersebut dengan menjelaskan bahwa pernyataan mengenai HMI merupakan bagian dari guyonan internal PMII dan bukan ditujukan untuk konsumsi publik.

‎Sorotan lain disampaikan M. Arief Rosyid Hasan, mantan Ketua Umum PB HMI periode 2013–2015. Ia mengingatkan agar persoalan NU tidak direduksi menjadi pertarungan identitas antara HMI, PMII, atau kelompok politik tertentu. Menurut Arief, NU bukan milik Muhaimin Iskandar, HMI, PMII, maupun kelompok politik tertentu.

‎Polemik tersebut memperlihatkan bagaimana pernyataan mengenai latar belakang organisasi kader dapat bergeser menjadi perdebatan publik. Evaluasi terhadap kepemimpinan NU merupakan bagian dari dinamika organisasi, tetapi kritik terhadap kebijakan, tata kelola, dan keputusan kepemimpinan perlu dibedakan dari penilaian terhadap identitas organisasi mahasiswa seseorang.

‎Dalam konteks Muktamar NU, perbedaan pandangan semestinya tidak mengaburkan persoalan substantif yang sedang dibahas.

‎Ketum PB HMI 2007-2009 Syahrul E Desopang mengatakan pernyataan Cak Imin yang mengaitkan kondisi Nahdlatul Ulama (NU) dengan latar belakang kepemimpinan dari kalangan alumni HMI semestinya menjadi bahan refleksi bagi seluruh keluarga besar HMI.

‎”Kritik terhadap kepemimpinan adalah hal yang wajar dalam demokrasi, tetapi persoalan organisasi tidak seharusnya disederhanakan menjadi perdebatan mengenai asal-usul kader. Alumni HMI memiliki rekam jejak dan kontribusi yang beragam, sebagaimana alumni PMII dan organisasi kemahasiswaan lainnya. Jika ada persoalan dalam tubuh NU, yang perlu diuji adalah kebijakan, tata kelola, dan kinerja kepemimpinannya, bukan semata-mata organisasi tempat seseorang pernah berproses. Perbedaan latar belakang kader tidak boleh menjadi alasan untuk mengerdilkan kontribusi satu sama lain,” kata Syahrul Dasopang kepada wartawan, Rabu, 16 September.

‎Syahrul Desopang menambahkan sebagai mantan Ketua Umum PB HMI, sikap yang pantas dikedepankan adalah mengingatkan bahwa persaudaraan antarkader organisasi mahasiswa Islam jauh lebih besar daripada kepentingan politik sesaat.

‎”Cak Imin tentu memiliki pengalaman panjang sebagai aktivis dan politisi, sehingga setiap pernyataannya akan mendapat perhatian publik. Karena itu, guyonan internal yang menyentuh identitas organisasi perlu disampaikan dengan kehati-hatian agar tidak menimbulkan tafsir yang melebar. Kritik boleh keras, tetapi tetap harus berbasis fakta, argumentasi, dan penghormatan terhadap tradisi intelektual. Jangan sampai perbedaan pilihan politik membuat warisan persaudaraan HMI, PMII, dan NU berubah menjadi sekadar arena saling menyindir,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *