BANDAR LAMPUNG — Universitas Teknokrat Indonesia sukses menyelenggarakan Teknokrat Semarac 2026. Salah satu kegiatannya yakni Talkshow Interaktif TekTalk SEMARAC 2026 bertajuk “Work Smarter: AI & Global Communication” yang berlangsung di Gelanggang Mahasiswa Dr. HM Nasrullah Yusuf, MBA., pada Sabtu, 29 Agustus 2026.
Acara ini dihadiri oleh ratusan peserta terdiri dari mahasiswa, siswa SMA-SMK-MA, guru pendamping guru sekolah dan mahasiswa Teknokrat.
Peserta yang antusias mendalami strategi pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) serta penguatan keterampilan komunikasi internasional untuk menghadapi tantangan dunia kerja modern.
Dipandu oleh Fadila Shely Amalia, S.Kom., M.Cs. adalah host dan moderator, acara berdurasi 40 menit ini menghadirkan dua narasumber berkompeten:
Fari Madyan, S.Kom. (Ketua LampungDev.org sekaligus praktisi IT dan software developer) dan Devan Ahmad Pramudya (Mahasiswa Berprestasi Utama UTI 2026, peraih CNN Academy Fellowship London, serta aktivis isu lingkungan dan pendidikan).
Poin utama dalam Talkshow adalah:
Akselerasi Produktivitas Lewat AI: Fari Madyan, S.Kom. menekankan pentingnya pergeseran pola kerja dari sekadar work hard menuju work smarter. Menurutnya, AI hadir sebagai alat pendorong produktivitas yang wajib dikuasai generasi muda, namun tetap membutuhkan logika berpikir dan pemecahan masalah dari manusia.
Sedangkan pengalaman Global dan Pemanfaatan Teknologi:
Devan Ahmad Pramudya membagikanj pengalamannya menembus panggung internasional. Ia menjelaskan bagaimana AI dapat mempercepat pembelajaran bahasa asing dan memperluas jejaring internasional, sembari mengingatkan pentingnya menjaga critical thinking agar mahasiswa tidak terlalu bergantung secara pasif pada teknologi.
• Sinergi Keahlian Humanis dan Digital:
Diskusi menyimpulkan bahwa meskipun AI dapat memangkas waktu kerja secara efisien, kemampuan komunikasi, empati, serta integritas personal tetap menjadi kunci utama kesuksesan karier di tingkat global.
Kutipan (Quote Berita):
“AI adalah pendorong efisiensi terbaik saat ini untuk membantu kita bekerja lebih cerdas. Namun, empati, pemikiran kritis, dan cara kita berkomunikasi tetap menjadi fondasi utama yang menentukan seberapa jauh kita bisa berdampak di kancah global.” (*)







