Benny N.A Puspanegara
Pemerhati Kebijakan Hukum Sosial Publik dan Eksekutif Nasional AKKI
Ketika Kita Pulang kepada Persahabatan
Empat Puluh Tahun, dari Surat Cinta hingga Era Digital
*“Kenangan lama, persahabatan selamanya.”*
Ada peristiwa yang tidak pernah benar-benar selesai meskipun waktu telah berlalu puluhan tahun. Ia tidak hilang, hanya tersimpan lebih dalam di ruang paling personal dalam ingatan manusia.
Namanya kenangan.
Dan ketika kenangan itu dipertemukan kembali dengan orang-orang yang menjadi bagian dari masa lalu, sesuatu yang ajaib terjadi: kita seperti menemukan kembali potongan diri kita yang pernah hilang dalam panjangnya perjalanan kehidupan.
Itulah makna yang lebih dalam dari Temu Kangen 40 Tahun SMPN 2 Tanjung Karang Angkatan 1986—Spanda 86.
Empat puluh tahun bukan sekadar angka.
Ia adalah perjalanan satu generasi melewati berbagai perubahan zaman: dari dunia tanpa internet menuju dunia yang seluruhnya terkoneksi; dari surat dan telepon rumah menuju WhatsApp dan video call; dari kaset pita menuju streaming; dari foto cetak menuju cloud storage; dari menunggu kabar berhari-hari menjadi mengetahui kabar seseorang hanya dengan melihat status update.
Namun ada satu hal yang tidak berubah:
Kerinduan untuk bertemu manusia secara nyata.
Acara temu kangen Spanda 86 akan dilaksanakan pada 5 September 2026 di Akar Hotels & Resort, Jalan WR Mongonsidi No. 175, Bandar Lampung.
Pada tahap pemantapan acara yang dipimpin Ketua Pelaksana Hifzon Zawahiri, bersama Sekretaris Pelaksana Evi Riana, berbagai masukan disampaikan oleh panitia.
Salah satu gagasan yang menarik datang dari Yuda Romdania, akademisi Universitas Lampung, yang mengusulkan agar dalam acara tersebut tidak ada penempatan maupun perlakuan khusus berdasarkan jabatan, profesi, kedudukan maupun status sosial.
Pesannya sederhana:
“Semua untuk Satu, Satu untuk Semua.”
Gagasan tersebut langsung mendapat persetujuan Ketua Pelaksana Hifzon Zawahiri dan diperkuat oleh Wendy Melfa, Ketua IKA Spanda sekaligus pengarah kegiatan.
Bagi saya, gagasan tersebut bukan sekadar teknis kepanitiaan.
Ia mengandung pesan sosial dan kebudayaan yang sangat kuat.
*Reuni: Saat Jabatan Dititipkan di Pintu Masuk*
Ada sesuatu yang sangat menarik dari kehidupan manusia modern.
Kita semakin terkoneksi, tetapi terkadang semakin berjarak.
Kita memiliki ribuan followers, tetapi belum tentu memiliki banyak sahabat.
Kita bisa mengetahui seseorang sedang makan di mana, bepergian ke mana, bahkan sedang merayakan ulang tahun dengan siapa hanya melalui timeline. Namun, belum tentu kita pernah duduk bersamanya selama dua jam, memandang matanya, tertawa bersama, lalu berkata:
“Kamu masih ingat kita dulu?”
Di sinilah reuni memiliki makna sosial.
Reuni adalah ruang untuk melakukan reconnect dengan manusia, bukan sekadar dengan akun media sosial.
Ia adalah kesempatan melakukan offline moment di tengah kehidupan yang terlalu lama berlangsung secara online.
Karena itu, gagasan agar tidak ada perlakuan khusus berdasarkan jabatan dan status sosial sesungguhnya merupakan sebuah bentuk kesetaraan sosial.
Ketika memasuki ruang reuni, seorang pejabat tidak harus hadir sebagai pejabat.
Seorang pengusaha tidak harus hadir sebagai pengusaha.
Seorang akademisi tidak harus hadir sebagai akademisi.
Seorang tokoh masyarakat tidak harus hadir sebagai tokoh masyarakat.
Semua cukup hadir sebagai:
Alumni Spanda 86.
Sebab sebelum menjadi siapa-siapa, mereka pernah menjadi anak SMP yang sama-sama mengenakan seragam sekolah.
Nostalgia 1980-an: Zaman Ketika Menunggu adalah Bagian dari Cinta
Spanda 86 adalah generasi yang tumbuh pada sebuah zaman yang sangat berbeda.
Zaman ketika teknologi belum mencuri sebagian besar ruang pribadi manusia.
Ketika menunggu kabar berarti benar-benar menunggu.
Ketika seseorang yang kita rindukan tidak bisa kita chat dalam hitungan detik.
Tidak ada WhatsApp.
Tidak ada Instagram.
Tidak ada TikTok.
Tidak ada direct message.
Tidak ada read receipt.
Tidak ada tanda dua centang biru.
Kalau ingin berkabar, harus menulis surat.
Dan surat itu bisa menjadi benda paling berharga selama berhari-hari.
Bayangkan seorang anak SMP era 1980-an menunggu surat dari seseorang yang ia sukai.
Hari pertama menunggu.
Hari kedua berharap.
Hari ketiga mulai bertanya-tanya.
Ketika akhirnya surat itu datang, dunia seakan berhenti beberapa saat.
Surat dibuka perlahan.
Tulisan tangan dibaca berulang-ulang.
Kadang hanya ada beberapa kalimat.
Tetapi beberapa kalimat itu cukup untuk membuat hati berbunga-bunga.
Tidak ada emoji berbentuk hati.
Tidak ada GIF.
Tidak ada sticker.
Hanya tinta dan kertas.
Namun anehnya, justru karena sederhana, rasanya jauh lebih personal.
*Cinta Monyet yang Tidak Pernah Benar-Benar Mati*
Generasi 80-an mengenal istilah cinta monyet.
Sebuah istilah sederhana untuk perasaan yang mungkin belum bisa disebut cinta dewasa, tetapi cukup kuat untuk membuat seorang anak SMP kehilangan konsentrasi ketika seseorang yang disukainya lewat di depan kelas.
Dulu, rasa suka tidak diumumkan melalui Instagram Story.
Tidak ada unggahan:
“Feeling blessed with someone special.”
Tidak ada caption kode-kodean.
Tidak ada close friends story.
Kalau mau memberi kode, paling banter menulis nama seseorang kecil-kecil di belakang buku.
Atau meminta sahabat menjadi kurir:
“Tolong bilang sama dia, aku mau ngomong.”
Betapa polosnya.
Betapa sederhana.
Dan mungkin justru karena kesederhanaan itulah kenangannya menjadi abadi.
Ada yang dulu rajin menunggu di depan kelas.
Ada yang pura-pura tidak melihat ketika berpapasan.
Ada yang sengaja duduk tidak terlalu jauh.
Ada yang menitipkan salam.
Ada yang mengirim surat.
Ada yang mungkin sampai sekarang masih menyimpan selembar kertas lama di antara buku-buku tua.
Itulah romantisme yang tidak membutuhkan algoritma.
Tidak membutuhkan likes.
Tidak membutuhkan views.
Tidak membutuhkan engagement.
Cukup satu senyuman.
Satu sapaan.
Satu nama.
Dan hati sudah seperti mendapatkan notifikasi paling penting sepanjang hari.
Dari Kaset Pita ke Playlist Digital
Generasi Spanda 86 juga pernah hidup dalam dunia musik yang memiliki ritual tersendiri.
Mendengarkan lagu bukan sekadar menekan tombol play.
Ada kaset pita.
Ada radio.
Ada tape recorder.
Ada kebiasaan merekam lagu dari radio sambil berharap penyiar tidak terlalu banyak bicara.
Ada kaset yang diputar berulang-ulang sampai pita mulai kusut.
Dan ada lagu tertentu yang kemudian menjadi soundtrack sebuah persahabatan.
Hari ini kita tinggal membuka aplikasi musik, memilih lagu, membuat playlist, kemudian membagikannya ke orang lain.
Sangat mudah.
Sangat cepat.
Tetapi justru karena terlalu mudah, terkadang kita kehilangan ritual emosional yang dahulu menyertai sebuah lagu.
Dulu, satu lagu bisa menjadi kenangan seumur hidup.
Ketika lagu itu terdengar lagi empat puluh tahun kemudian, tiba-tiba kita melakukan flashback.
Bukan hanya mengingat lagunya.
Kita mengingat orangnya.
Tempatnya.
Seragamnya.
Rambutnya.
Bangku sekolahnya.
Bahkan suasana udara pagi ketika itu.
Itulah kekuatan nostalgia.
*Foto Dulu Dicetak, Sekarang Disimpan di Cloud*
Dulu, sebuah foto memiliki nilai yang sangat berbeda.
Tidak bisa langsung melihat hasilnya.
Harus menunggu film dicuci dan dicetak.
Satu foto bisa disimpan bertahun-tahun.
Kadang dimasukkan ke album.
Kadang ditempel di dinding.
Kadang diselipkan di dalam buku.
Hari ini?
Kita bisa mengambil seratus foto dalam beberapa menit.
Tetapi justru karena terlalu banyak, tidak semuanya menjadi kenangan.
Ada foto yang hanya hidup selama dua puluh empat jam di story.
Setelah itu hilang dari perhatian.
Generasi 80-an mungkin tidak memiliki ribuan foto.
Tetapi beberapa foto yang mereka miliki sering kali memiliki nilai emosional yang luar biasa besar.
Sebab foto bukan sekadar gambar.
Ia adalah pintu menuju masa lalu.
*Dari Buku Diary ke Timeline*
Dulu, ketika hati sedang penuh, seseorang menulis di buku diary.
Tanggal ditulis.
Nama kadang disamarkan.
Perasaan dituangkan.
Rahasia disimpan.
Dan diary menjadi ruang yang sangat personal.
Sekarang manusia memiliki timeline.
Kehidupan dipublikasikan.
Apa yang sedang dimakan, di mana berada, siapa yang ditemui, bahkan bagaimana perasaan hari ini, bisa menjadi konsumsi publik.
Kita hidup dalam era personal branding.
Manusia bukan hanya menjalani kehidupan, tetapi juga mengelola bagaimana kehidupan itu terlihat.
Namun reuni mengingatkan kita pada sesuatu yang sederhana:
Kita tidak harus selalu terlihat sukses untuk menjadi berharga.
Di antara sahabat lama, kita boleh menjadi diri sendiri.
Tidak perlu branding.
Tidak perlu flexing.
Tidak perlu membuktikan apa-apa.
Tidak perlu membangun citra.
Karena mereka sudah mengenal kita jauh sebelum kita menjadi versi diri yang sekarang.
*Reuni sebagai “Healing” Kolektif*
Istilah modern menyebutnya healing.
Tetapi sesungguhnya generasi terdahulu mungkin telah mengenal maknanya tanpa menggunakan istilah tersebut.
Bertemu sahabat.
Bercerita.
Tertawa.
Mengingat masa lalu.
Memaafkan kesalahpahaman.
Menyadari bahwa waktu ternyata terlalu berharga untuk dihabiskan dalam dendam.
Itulah healing.
Reuni bisa menjadi semacam healing kolektif sebuah generasi.
Bukan karena masa lalu harus diulang.
Tetapi karena masa lalu perlu diterima sebagai bagian dari perjalanan.
Ada cerita yang lucu.
Ada yang memalukan.
Ada cinta monyet.
Ada persahabatan yang pernah renggang.
Ada mungkin perasaan yang tidak pernah sempat disampaikan.
Ada teman yang dulu sangat dekat tetapi kemudian hilang kontak.
Empat puluh tahun kemudian, semua itu dapat ditempatkan kembali dalam perspektif yang lebih dewasa.
Kita tersenyum.
Lalu berkata:
“Ternyata kita pernah muda.”
*FOMO” Tidak Berlaku untuk Kenangan*
Zaman sekarang mengenal istilah FOMO — Fear of Missing Out.
Takut ketinggalan informasi.
Takut ketinggalan tren.
Takut tidak ikut sesuatu yang sedang viral.
Tetapi ada satu hal yang justru layak kita takutkan:
jangan sampai kita kehilangan kesempatan bertemu sahabat ketika kesempatan itu masih ada.
Karena waktu tidak pernah memberi notifikasi.
Tidak ada reminder yang berbunyi:
“Temanmu mungkin tidak akan selalu ada.”
Tidak ada algoritma yang memberi tahu kapan sebuah pertemuan terakhir akan menjadi pertemuan terakhir.
Karena itu, reuni bukan hanya tentang nostalgia.
Ia juga tentang menghargai waktu yang tersisa.
*Indonesia dan Budaya Guyub*
Secara sosial dan budaya, konsep yang diusung Spanda 86 sangat dekat dengan karakter masyarakat Indonesia.
Kita mengenal gotong royong.
Kita mengenal guyub.
Kita mengenal rukun.
Kita mengenal tepo seliro.
Kita mengenal silaturahmi.
Nilai-nilai itu tidak mengenal kasta sosial.
Di dalam gotong royong, tangan seorang pejabat dan tangan seorang rakyat biasa sama-sama memiliki fungsi.
Dalam silaturahmi, yang dicari bukan jabatan, tetapi hubungan manusia.
Karena itu, ketika Spanda 86 memilih tidak memberikan perlakuan khusus berdasarkan status sosial, sesungguhnya mereka sedang menghidupkan kembali salah satu DNA sosial Indonesia:
kesetaraan dalam persaudaraan.
*Jangan Bawa Jabatan ke Meja Reuni*
Saya membayangkan satu hal sederhana pada 5 September nanti.
Ketika semua alumni memasuki ruangan, mungkin ada satu aturan tak tertulis:
Jabatan boleh ditinggalkan di luar.
Yang masuk ke ruangan adalah manusia.
Bukan titel.
Bukan pangkat.
Bukan jabatan.
Bukan rekening.
Bukan jumlah followers.
Bukan verified account.
Bukan jabatan struktural.
Bukan social status.
Yang masuk adalah seorang sahabat.
Seorang teman sebangku.
Seorang kawan bermain.
Seorang teman yang pernah berbagi cerita.
Seorang anak SMP tahun 1986.
Dan mungkin ketika satu sama lain saling melihat, akan ada kalimat yang sangat sederhana:
“Kamu masih ingat saya?”
Jawabannya mungkin:
“Mana mungkin lupa?”
Karena ada orang-orang yang tidak pernah benar-benar pergi dari hidup kita.
Mereka hanya jarang kita temui.
*Spanda 86 dan Masa Depan Tradisi Reuni*
Di sinilah acara Spanda 86 dapat memiliki makna lebih luas.
Reuni ini dapat menjadi role model bagi komunitas alumni lainnya di Indonesia.
Bukan karena acaranya harus paling mewah.
Bukan karena tempatnya harus paling megah.
Bukan karena siapa yang hadir harus paling terkenal.
Tetapi karena ada pesan yang ingin ditanamkan:
Persahabatan tidak mengenal hierarki.
Di zaman ketika manusia semakin mudah mengukur seseorang berdasarkan status, achievement, net worth, jabatan, popularitas, bahkan followers, Spanda 86 justru dapat menghadirkan paradigma berbeda.
Bahwa ada satu ruang di mana semua orang kembali setara.
Ruang itu bernama:
persahabatan.
*Dari “Aku” Kembali Menjadi “Kita*
Mungkin selama empat puluh tahun terakhir kehidupan telah mengajarkan kita kata “aku”.
Aku harus sukses.
Aku harus maju.
Aku harus punya jabatan.
Aku harus punya rumah.
Aku harus punya usaha.
Aku harus mencapai sesuatu.
Tetapi reuni mengajarkan kembali kata yang lebih tua dan lebih manusiawi:
“Kita.”
Kita pernah belajar bersama.
Kita pernah bermain bersama.
Kita pernah dimarahi guru bersama.
Kita pernah tertawa bersama.
Kita pernah bermimpi bersama.
Dan hari ini kita bertemu kembali.
Empat puluh tahun kemudian, kita mungkin memiliki kehidupan yang berbeda.
Tetapi sejarah persahabatan itu tetap satu.
*Sebuah Puisi Kecil untuk Spanda 86*
Dulu kita menulis nama,
di sudut buku dan lembar diary.
Tak ada hashtag,
tak ada story,
hanya hati yang diam-diam mengerti.
Dulu kita menunggu surat,
menanti telepon berbunyi,
menyimpan foto dalam album,
dan lagu dalam kaset yang diputar berkali-kali.
Kini rambut mungkin memutih,
langkah tak lagi secepat dulu.
WhatsApp mempertemukan kabar,
Instagram menyimpan wajah,
dan dunia berubah begitu cepat.
Tetapi ketika sahabat lama datang,
kita kembali menjadi anak sekolah.
Tidak ada jabatan.
Tidak ada kasta.
Tidak ada jarak.
Hanya ada tawa,
kenangan,
dan persahabatan yang ternyata
tidak pernah selesai.
*Legacy yang Lebih Penting daripada Popularitas*
Di zaman modern, manusia sering berbicara tentang legacy.
Apa yang kita tinggalkan?
Apa yang akan diingat orang tentang kita?
Bagi saya, salah satu legacy terbaik bukanlah seberapa tinggi seseorang pernah menduduki jabatan.
Bukan pula seberapa besar kekayaannya.
Legacy yang paling manusiawi adalah:
berapa banyak orang yang merasa bahagia karena pernah mengenal kita.
Dan empat puluh tahun persahabatan adalah modal sosial yang luar biasa.
Spanda 86 memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa alumni bukan hanya jaringan profesional.
Alumni juga merupakan jaringan kemanusiaan.
Bukan hanya networking untuk urusan bisnis.
Tetapi reconnecting untuk urusan hati.
Bukan hanya membangun career network.
Tetapi merawat friendship network.
*Selamat Pulang, Spanda 86*
Akhirnya, 5 September 2026 bukan hanya tentang sebuah tanggal di kalender.
Ia adalah perjalanan pulang.
Pulang kepada masa ketika hidup belum serumit sekarang.
Pulang kepada tawa yang tidak dibuat untuk konten.
Pulang kepada pertemanan yang tidak membutuhkan mutual benefit.
Pulang kepada cinta monyet yang dulu mungkin membuat malu, tetapi kini justru membuat tersenyum.
Pulang kepada kaset lama.
Kepada surat.
Kepada diary.
Kepada foto yang mulai menguning.
Kepada nama-nama yang pernah begitu dekat.
Dan terutama, pulang kepada sebuah kesadaran bahwa:
Kita boleh berubah.
Zaman boleh berubah.
Teknologi boleh berubah.
Status sosial boleh berubah.
Tetapi persahabatan yang tulus tidak harus berubah.
Semoga Temu Kangen 40 Tahun SMPN 2 Tanjung Karang Angkatan 1986—Spanda 86 sukses, hangat, guyub, penuh tawa, penuh nostalgia, dan penuh energi persaudaraan.
Semoga gagasan:
“Semua untuk Satu, Satu untuk Semua.”
benar-benar menjadi napas acara.
Dan semoga Spanda 86 mampu menjadi role model reuni alumni di Indonesia, khususnya di Lampung—sebuah contoh bahwa reuni bukan panggung mempertontonkan siapa yang paling berhasil, tetapi ruang untuk mengingat bahwa sebelum kita menjadi siapa-siapa, kita pernah menjadi sahabat.
Karena pada akhirnya, setelah empat puluh tahun perjalanan, kita akan sampai pada kesimpulan yang mungkin sangat sederhana:
Jabatan bisa berganti.
Kekayaan bisa berubah.
Popularitas bisa turun.
Followers bisa hilang.
Algoritma bisa berganti.
Tetapi kenangan tentang seorang sahabat yang pernah hadir dalam masa muda kita—
akan selalu punya tempatnya sendiri di dalam hati.
Selamat bertemu kembali, Spanda 86.
Kenangan lama, persahabatan selamanya.






