JAKARTA — Persaingan teknologi global membuat semikonduktor bukan lagi sekadar komponen elektronik, tetapi menjadi bagian penting dari kepentingan ekonomi dan geopolitik. Di tengah ketegangan perdagangan dan pembatasan teknologi, penguasaan rantai pasok chip menjadi semakin strategis.
Salah satu perusahaan yang berada di posisi penting adalah ASML, produsen peralatan litografi asal Belanda. ASML menjadi pemain utama dalam teknologi Extreme Ultraviolet (EUV) yang digunakan untuk memproduksi chip dengan fitur sangat kecil dan berteknologi tinggi. Teknologi tersebut menjadi salah satu komponen penting dalam produksi semikonduktor mutakhir untuk kebutuhan kecerdasan buatan, pusat data, perangkat elektronik hingga otomotif.
Mesin litografi bekerja dengan mencetak pola sirkuit pada wafer silikon. Semakin maju teknologi litografi, semakin kecil pola yang dapat dibuat dan semakin tinggi kemampuan chip yang dihasilkan.
Posisi strategis ASML juga memperlihatkan bagaimana rantai pasok semikonduktor dunia sangat terkonsentrasi pada perusahaan dan negara tertentu. Pembatasan ekspor peralatan litografi canggih menjadi salah satu instrumen dalam persaingan teknologi antara negara-negara besar.
Ketika akses terhadap teknologi paling mutakhir terbatas, produsen chip dapat menggunakan teknologi litografi generasi sebelumnya seperti Deep Ultraviolet (DUV). Namun, untuk mencapai ukuran fitur yang lebih kecil, proses tersebut membutuhkan teknik multi-patterning yang dapat menambah tahapan produksi, kompleksitas, biaya dan tantangan terhadap tingkat keberhasilan produksi.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan semikonduktor bukan hanya soal siapa yang memiliki pabrik chip. Penguasaan desain, material, peralatan produksi, sumber daya manusia, hingga proses assembly, testing and packaging ikut menentukan posisi sebuah negara dalam rantai pasok global.
Indonesia Tak Bisa Hanya Menjadi Pasar
Bagi Indonesia, perkembangan tersebut menjadi peringatan bahwa ketergantungan terhadap impor semikonduktor memiliki risiko strategis. Kementerian Perindustrian mencatat nilai impor semikonduktor Indonesia meningkat dari sekitar US$2,33 miliar pada 2020 menjadi US$4,87 miliar pada Januari-November 2025.
Pemerintah mulai mendorong pembangunan ekosistem semikonduktor nasional secara bertahap. Kemenperin menempatkan pengembangan desain chip dan sumber daya manusia sebagai prioritas awal, sebelum Indonesia memperluas kemampuan menuju tahapan manufaktur yang lebih kompleks.
Roadmap industri semikonduktor nasional mencakup empat sektor utama, yakni material, desain, fabrikasi atau front-end, serta assembly, testing and packaging atau back-end. Seluruhnya ditopang pengembangan SDM, riset, inovasi, infrastruktur dan kebijakan industri.
Indonesia juga telah memiliki Indonesia Manufacturing Center (IMC) di Purwakarta, Jawa Barat. Fasilitas tersebut dirancang sebagai pusat kolaborasi industri, perguruan tinggi, lembaga riset dan pemerintah dalam pengembangan serta transfer teknologi manufaktur. IMC diresmikan pada 2024 dan mulai memberikan layanan pelatihan serta bimbingan teknis kepada pemangku kepentingan industri.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa pembangunan industri semikonduktor tidak dapat dilakukan secara instan. Pengembangan talenta dan desain chip menjadi tahap awal untuk membangun kemampuan nasional.
«“Pengembangan industri semikonduktor nasional tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan ditempuh melalui pendekatan bertahap dan realistis dengan menempatkan pengembangan talenta dan desain chip sebagai langkah utama pada tahap awal,” kata Agus dalam Indonesia Semiconductor Summit 2026.»
BRIN dan Tantangan Material
Selain industri, kemampuan riset menjadi faktor penting. BRIN memiliki peran dalam pengembangan nanoteknologi dan material maju yang dapat mendukung ekosistem semikonduktor.
Kepala Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material BRIN, Prof. Ratno Nuryadi, tercatat aktif dalam berbagai agenda riset material maju, termasuk pengembangan material untuk kebutuhan teknologi masa depan.
Tantangan Indonesia tidak sederhana. Kemenperin sebelumnya menyebut silikon merupakan material dasar industri semikonduktor, sementara Indonesia belum memiliki industri pengolahan silika hingga wafer silikon dalam skala yang dibutuhkan industri.
Artinya, ambisi membangun industri semikonduktor nasional tidak cukup berhenti pada mendatangkan investasi atau membangun fasilitas perakitan. Indonesia perlu membangun rantai nilai secara bertahap, mulai dari material, desain, talenta, riset, manufaktur hingga pengujian dan pengemasan.
Pelajaran dari dominasi teknologi litografi menunjukkan satu hal: penguasaan teknologi strategis menentukan posisi tawar sebuah negara.
Indonesia mungkin belum berada pada tahap memproduksi mesin litografi tercanggih seperti ASML. Namun, membangun kemampuan desain chip, riset material, SDM, assembly, testing dan packaging merupakan langkah untuk memastikan Indonesia tidak selamanya hanya menjadi pasar bagi produk teknologi negara lain.
Di tengah meningkatnya kebutuhan chip untuk AI, kendaraan listrik, telekomunikasi dan industri digital, pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia membutuhkan industri semikonduktor.
Pertanyaannya adalah seberapa jauh Indonesia mampu membangun ekosistemnya sendiri sebelum ketergantungan teknologi berubah menjadi kerentanan strategis.
ASML Pegang Mesin Chip Dunia, Indonesia Jangan Cuma Pegang Wacana






