Oleh: Benny N.A. Puspanegara
Pemerhati Sosial dan Eksekutif Nasional Kerajaan Keraton Se Indonesia (EKKNAS AKKI)
JAKARTA – Negara sering kali tergesa membaca simbol, tetapi kerap lalai membaca makna. Kita cepat bereaksi pada seragam, pada warna, pada atribut yang tampak di mata namun lamban menyelami getar batin manusia yang mengenakannya. Padahal, pemikir politik dunia Hannah Arendt pernah mengingatkan bahwa kekuasaan sering kali sibuk mempertahankan simbol dan otoritas, tetapi lupa mendengar suara manusia setelah hiruk-pikuk kekuasaan itu sendiri mereda.
Maka ketika Kezia Syifa, seorang anak muda diaspora asal Tangerang, tampil mengenakan seragam militer Amerika Serikat, kegaduhan pun lahir lebih dulu daripada perenungan.

Sejarah peradaban sesungguhnya mengajarkan satu hal mendasar: simbol hanyalah kulit luar; makna adalah denyut kehidupan di dalamnya. Antropolog besar Claude Lévi-Strauss pernah mengatakan bahwa orang bijak bukanlah mereka yang tergesa memberi jawaban, melainkan mereka yang tahu bagaimana mengajukan pertanyaan yang tepat. Sayangnya, dalam kasus ini, negara dan publik justru lebih dahulu menjatuhkan vonis sebelum bertanya.
Kezia Syifa bukan tentara yang membelot. Ia bukan prajurit Indonesia yang melanggar sumpah, lalu berpaling ke negeri lain. Ia adalah anak muda diaspora, pemegang izin tinggal tetap, yang secara sah dan legal menapaki jalan hidupnya di ruang sosial yang memberinya kesempatan tumbuh.
Dalam perspektif antropologi migrasi, apa yang ia lakukan bukanlah pengkhianatan, melainkan ikhtiar eksistensial usaha seorang manusia muda untuk bertahan, berkembang, dan menemukan dirinya.
Pemikir budaya dunia Edward Said pernah mengingatkan bahwa hidup sebagai diaspora atau pengembara lintas negara memang sering tampak menarik untuk dibicarakan, tetapi sangat berat untuk dijalani. Diaspora bukan romantika, melainkan konsekuensi sejarah, pilihan hidup, dan sering kali juga keterpaksaan yang sunyi.
Bangsa ini sebetulnya sangat akrab dengan kata hijrah. Pada dekade 1970 hingga 1990-an, jutaan anak muda meninggalkan kampung halaman, berbondong-bondong menuju Jakarta. Mereka tidak pergi karena membenci tanah kelahiran, melainkan karena kampung halaman tak lagi mampu menyediakan ruang bagi mimpi dan harapan mereka. Hari ini, hijrah itu berlanjut bukan lagi antarkota, melainkan antarnegara. Pola sosialnya sama, hanya peta geografisnya yang berubah.
Dalam sosiologi, fenomena ini kerap dijelaskan melalui dorongan dan tarikan sosial. Namun bagi saya, ini lebih dalam dari sekadar teori. Ini adalah retakan emosional antara negara dan generasi mudanya. Ketika negara gagal hadir sebagai ruang yang adil, aman, dan memberi harapan, anak-anak mudanya mencari pangkuan lain.
Ekonom dan filsuf dunia Amartya Sen menegaskan bahwa pembangunan sejati bukan sekadar pertumbuhan ekonomi, melainkan perluasan kebebasan manusia untuk memilih kehidupan yang mereka anggap bernilai. Ketika kebebasan itu menyempit, manusia akan mencari ruang lain untuk bernapas.
Di titik inilah saya melihat kesamaan sunyi antara Kezia Syifa dan Ressa Rizky Rosanno. Keduanya menggugat. Ressa menggugat pengakuan identitas dan keadilan personal yang pada akhirnya diakui secara biologis. Kezia menggugat ruang hidup dan masa depan. Keduanya berbeda konteks dan jalan, tetapi lahir dari sumber yang sama: rasa tidak didengar oleh sistem yang terlalu sibuk menjaga wibawa, namun lupa merawat nurani.
Filsuf sosial Michel Foucault pernah mengingatkan bahwa di mana ada kekuasaan, di situ selalu ada perlawanan dan gugatan sering kali menjadi bahasa paling jujur dari mereka yang terpinggirkan.
Negara yang besar seharusnya tidak reaktif, tetapi reflektif. Tidak tergesa menghakimi, tetapi berani bercermin.
Saya meyakini, jika Presiden Prabowo Subianto melihat persoalan ini secara utuh dan jernih, beliau akan memilih jalan kebijaksanaan. Riwayat hidup beliau sendiri adalah catatan antropologis tentang diaspora, keterasingan, dan pencarian jati diri. Ketika republik ini diguncang badai politik, Prof. Soemitro Djojohadikusumo memboyong keluarganya berpindah dari satu negeri ke negeri lain.
Presiden Prabowo tumbuh dalam lintasan budaya dan bangsa yang majemuk sebuah pengalaman yang mengajarkan bahwa cinta tanah air tidak selalu lahir dari tempat tinggal, tetapi dari ingatan dan kesetiaan batin.
Tokoh dunia Nelson Mandela pernah mengatakan bahwa dalam hidup, manusia tidak pernah benar-benar kalah ia hanya menang atau belajar. Pengalaman diaspora, keterasingan, dan tempaan sejarah adalah ruang belajar yang mahal, yang tak dimiliki semua pemimpin.
Perbedaan Presiden Prabowo dengan banyak pemimpin sebelumnya terletak pada kedalaman pengalaman hidup. Beliau sarat ilmu, sarat bacaan, sarat tempaan sejarah. Dan yang paling langka: ia memiliki empati. Program Makan Bergizi Gratis-MBG, Pendidikan gratis di Universitas Pertahanan bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan pernyataan moral bahwa anak muda harus dirangkul, bukan dicurigai; dibimbing, bukan dihakimi.
Kezia Syifa adalah satu dari sekian banyak tunas yang mencari cahaya. Seperti Jim Geovedi, anak muda asal Lampung, tamatan SMA, yang menggemparkan dunia dengan kemampuannya menembus sistem satelit NASA. Bangsa ini sering terlambat menyadari bahwa talenta besar kerap lahir di luar pagar birokrasi, di luar lingkaran kuasa, dan di luar jejaring elite. Ilmuwan besar Albert Einstein pernah mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki kejeniusannya sendiri, dan kesalahan terbesar sebuah sistem adalah mengukur semua orang dengan alat ukur yang sama.
Anak-anak seperti Kezia dan Jim bukan tidak Merah Putih. Mereka justru terlalu mencintai hidup, masa depan, dan martabat mereka sebagai manusia merdeka. Pilihan mereka bukan penolakan terhadap Indonesia, melainkan cermin jujur atas keadaan. Negara perlu bertanya dengan rendah hati: apakah kami sudah menyediakan ruang yang adil bagi mereka yang tak punya koneksi, tak punya dinasti, tak punya akses?
Dalam psikologi perkembangan, pilihan Kezia dapat dibaca sebagai pemberontakan eksistensial bukan pemberontakan yang merusak, melainkan upaya menegaskan diri. Sebuah bahasa sunyi yang berkata: “Saya ingin diakui, dipercaya, dan diberi kesempatan.” Ia sadar risiko. Ia memahami konsekuensi. Dan justru di sanalah kedewasaan itu lahir.
Pepatah lama mengatakan, lebih baik hujan batu di negeri sendiri daripada hujan emas di negeri orang. Pepatah ini lahir di zaman ketika negara masih menjadi rumah yang utuh. Hari ini, bagi sebagian anak muda, hujan batu itu terlalu sering jatuh di kepala yang sama, sementara atap perlindungan tak kunjung dibangun. Maka pepatah itu bukan kehilangan makna, melainkan mengalami pergeseran zaman. Nasionalisme hari ini bukan soal alamat domisili, melainkan soal martabat, rasa dihargai, dan kesempatan berkontribusi.
Mahasiswa Indonesia yang belajar, bekerja, dan menetap di luar negeri bukan berarti kehilangan cinta tanah air. Nasionalisme bukan soal paspor, tetapi soal ikatan batin dan tanggung jawab moral. Banyak dari mereka tetap membawa nama Indonesia dengan prestasi dan etika meski negara sering lupa mencatat jasanya.
Karena itu, saya menyerukan kepada negara: bersikaplah arif dan bijaksana. Jangan tergesa mencabut kewarganegaraan anak sendiri, sementara di sisi lain kita membuka pintu naturalisasi selebar-lebarnya. Jangan keras kepada darah daging sendiri, tetapi lunak kepada yang asing.
Kezia Syifa bukan musuh negara. Ia adalah cermin. Dan cermin, betapapun jujurnya, sering kali membuat kita tidak nyaman.
Negara yang besar bukan negara yang mudah marah, tetapi negara yang mau mendengar lalu berbenah.







