Kebocoran Dana di Bank DKI Diduga Ada Peran Orang Dalam

JAKARTA – Pembobolan sistem keamanan bank merupakan peristiwa yang cukup langka terungkap ke publik. Salah satu bank yang menjadi korban peretasan dari sindikat peretas tersebut tak lain, Bank DKI yang saat ini telah berganti nama menjadi Bank Jakarta.

Pelaku yang diduga merupakan bagian dari sindikat peretas itu menggondol uang rekening nasabah sebanyak Rp 228,1 miliar. Caranya: menyusup ke sistem keamanan digital Bank Jakarta dan mengecoh sistem transfer uang milik Bank Indonesia, BI-Fast.

Wakil Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Kombes Pol. Andri Sudarmadi menyebut, pihaknya belum bisa merinci identitas enam tersangka tersebut. Sebab, masih dilakukan pengejaran dan pendalaman tersangka lainnya.

“Untuk Bank DKI kita masih pendalaman soal ilegal aksesnya. Nanti saatnya kita sampaikan. Kita masih pengembangan, sabar, kita sampaikan,” ujar Kombes Pol. Andri di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, dikutip dari Tribratanews.

Spesialis Keamanan Teknologi Vaksincom Alfons Tanujaya menduga pembobolan bukan lewat sistem BI-Fast BI, melainkan bank peserta, dalam hal ini Bank Jakarta. Sebab, insiden hanya terjadi di bank tertentu.

“Jadi, kalau (pembobolan) dari sistem BI, seharusnya tidak logis. Sebab, terjadinya hanya di bank tertentu,” kata Alfons

Menurut dia, skenario paling mungkin dilakukan pelaku yakni kompromi terhadap sistem bank peserta, baik melalui rekayasa Application Programming Interface atau Antarmuka Pemrograman Aplikasi (API), manipulasi autentikasi, maupun bypass proses internal.

“Ini kemungkinan melibatkan orang yang sangat mengerti sistem. Kalau orang dari luar (perusahaan), tidak mudah melakukan hal ini,” ujarnya.

Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso. Denny memastikan sistem BI-Fast beroperasi dengan aman dan sesuai standar internasional. “Masalah tersebut bukan berasal dari sistem BI-Fast, melainkan dari aplikasi di bank terkait,” kata Denny

Direktur Utama Bank DKI, Agus H Widodo memastikan gangguan sistem layanan di mobile banking Bank DKI tidak akan berdampak pada penyaluran bansos dari Pemprov DKI Jakarta kepada masyarakat yang membutuhkan.

Direktur Utama Bank DKI, Agus H Widodo, kembali menegaskan bahwa kerahasiaan dan keamanan data serta dana nasabah tetap terjaga, tanpa mengalami gangguan selama masa pemulihan sistem.

“Bank DKI menjunjung tinggi prinsip kehati-hatian serta memahami pentingnya menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh para nasabah, oleh karena itu kami berkomitmen untuk terus memberikan layanan terbaik dengan memastikan seluruh informasi dan dana nasabah tetap aman dan terlindungi,” ujar Agus dalam keterangannya,