JAKARTA – Pengamat Timur Tengah, Muhammad Zulfikar Rakhmat menyoroti sejumlah unggahan di media sosial yang menyebut kelompok usaha besar industri sawit Indonesia, antara lain Wilmar, Sinar Mas melalui anak usahanya SMART, Musim Mas, serta Royal Golden Eagle melalui Apical dan Asian Agri.
Kelompok perusahaan tersebut merupakan pemain besar dalam industri pengolahan dan perdagangan sawit nasional. Namun, Zulfikar mengakui belum menemukan dokumen pengapalan yang dapat memastikan perusahaan mana yang secara langsung memasok produk ke Israel.
Ia juga menyebut pihak Sinar Mas belum memberikan tanggapan atas pertanyaan wartawan mengenai persoalan tersebut.
Zulfikar meminta perusahaan-perusahaan yang disebut dalam pemberitaan memberikan penjelasan terbuka mengenai tujuan akhir perdagangan produk mereka.
“Perusahaan-perusahaan tersebut harus menjelaskan kepada publik. Jika produk minyak sawit mereka tidak dikirim ke Israel, mereka dapat membuktikannya. Jika memang dikirim, masyarakat berhak mengetahuinya,” tulisnya.
Ia juga mendorong Kementerian Perdagangan melarang ekspor CPO dan produk turunannya ke Israel. Menurutnya, Israel masih dapat memperoleh pasokan dari negara lain sehingga penghentian ekspor Indonesia tidak serta-merta menghilangkan pasar bagi petani dan produsen dalam negeri.
Francesca Albanese dan MUI Desak Aksi Nyata untuk Palestina
Desakan agar Indonesia mengambil langkah lebih konkret terhadap Israel juga disampaikan Pelapor Khusus PBB untuk wilayah Palestina yang diduduki, Francesca Albanese.
Dalam kunjungannya ke Indonesia pada Oktober 2026, Albanese mengingatkan bahwa dukungan terhadap Palestina tidak cukup hanya melalui pernyataan politik dan diplomasi.
“Sekali lagi saya memanggil Indonesia, soal Palestina ini bukan hanya isu tentang Islam. Kita harus bertindak. Perkataan itu perlu, tapi tidak cukup. Perlu tindakan dan terarah supaya tidak kacau,” kata Albanese dalam acara Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2026, Jumat (23/10/2026).
Albanese juga mengajak masyarakat Indonesia melihat persoalan Palestina sebagai isu kemanusiaan dan pelanggaran hak asasi manusia, bukan semata-mata konflik agama.
Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) turut mendorong penguatan gerakan boikot terhadap produk yang terafiliasi dengan Israel.
Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim, menegaskan pentingnya boikot sebagai instrumen tekanan ekonomi untuk mendukung perjuangan Palestina.
“Boikot adalah alat yang sah, efektif, dan merupakan kewajiban syariah bagi umat Islam dalam mendukung Palestina,” tegas Sudarnoto dalam konferensi pers di Kantor MUI.
Sudarnoto juga meminta pemerintah mengumumkan secara resmi daftar produk yang terafiliasi dengan Israel agar masyarakat memperoleh informasi yang jelas dan tidak salah sasaran dalam melakukan boikot.







