Di Perayaan Natal yang Penuh Kasih, Djony Bunarto Presdir Astra Dinilai Cuek Terhadap Derita Rakyat Andalas

JAKARTA – Perayaan Natal 2025 yang seharusnya penuh sukacita dan kedamaian bagi umat Kristiani di Indonesia, tahun ini terasa berbeda.

‎Di tengah duka mendalam yang menyelimuti wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat akibat banjir bandang serta tanah longsor yang terjadi sejak akhir November 2025, banyak keluarga merayakan Natal di tenda pengungsian atau dengan kesederhanaan ekstrem.

‎Menurut data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 25 Desember 2025, bencana hidrometeorologi ini telah merenggut nyawa lebih dari 1.135 orang, dengan ratusan ribu rumah rusak dan jutaan jiwa terdampak.

‎Aceh menjadi salah satu provinsi paling parah, dengan korban tewas mencapai ratusan dan pengungsi mencapai angka signifikan. Banyak gereja dan komunitas Kristen di wilayah terdampak memilih perayaan Natal yang khidmat, fokus pada doa solidaritas dan penggalangan bantuan, alih-alih kemeriahan biasa.

‎Di sisi lain, dunia korporat Indonesia menunjukkan respons yang beragam terhadap tragedi ini.

‎Grup Astra, salah satu konglomerat terbesar di tanah air yang dipimpin oleh Presiden Direktur Djony Bunarto Tjondro, justru menuai sorotan karena dianggap kurang vokal dan responsif secara pribadi di tengah perayaan akhir tahun.

‎Ketua Kamaksi Joko Priyoski mengatakan ‎meskipun perusahaan melalui program Nurani Astra telah menyalurkan bantuan signifikan—seperti mendirikan 12 posko bencana, mendistribusikan ribuan paket sembako, mengerahkan alat berat, dan menyediakan layanan darurat sejak awal Desember—tidak ada pernyataan atau aksi publik langsung dari Djony Bunarto Tjondro yang menyoroti kepedulian pribadi terhadap korban, khususnya di Aceh.

‎”Djony Bunarto Tjondro, yang dikenal aktif dalam berbagai program CSR Astra seperti pemberdayaan desa dan pelestarian lingkungan, belum terlihat memberikan ucapan duka cita publik atau inisiatif khusus terkait bencana ini selama periode Natal 2025″ kata Ketua Umum Kamaksi Joko Priyoski kepada wartawan, Sabtu, 27 Desember.

‎Hal ini kontras dengan banyak tokoh bisnis dan publik figur lain yang secara terbuka menyuarakan solidaritas, menggalang donasi, atau bahkan mengurangi kemeriahan perayaan pribadi mereka demi menghormati korban.

‎Kritik dari sejumlah kalangan masyarakat sipil menilai bahwa sebagai pemimpin perusahaan raksasa dengan kapitalisasi pasar triliunan rupiah, Djony seharusnya bisa lebih proaktif dalam menyuarakan empati, terutama ketika banyak keluarga di Aceh dan Sumatera merayakan Natal dalam kesedihan.

‎”Natal adalah tentang kasih dan berbagi beban sesama. Di saat seperti ini, kepedulian dari para elit bisnis sangat diharapkan untuk menginspirasi yang lain,” ujar Joko

‎Sementara itu, Astra sendiri menyatakan komitmennya untuk terus mendukung pemulihan pasca-bencana sebagai bagian dari kontribusi sosial berkelanjutan.

‎Namun, absennya suara pribadi dari pucuk pimpinan seperti Djony Bunarto Tjondro di momen sensitif seperti Natal 2025 ini meninggalkan kesan bahwa prioritas korporat masih jauh dari duka rakyat kecil yang sedang berjuang bertahan hidup.

‎Perayaan Natal tahun ini menjadi pengingat bagi semua pihak: di balik lampu-lampu gemerlap dan pesta akhir tahun, ada ribuan saudara kita yang membutuhkan uluran tangan nyata. Semoga 2026 membawa pemulihan dan keadilan bagi korban bencana di Aceh dan Sumatera.