Telur vs Susu! Adu Program Ganjar – Mahfud vs Prabowo – Gibran. Sekjen PDIP: Telur Lebih Bergizi

4,579 views
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto. Foto: Ist

JAKARTA- Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto bilang program pembagian telur gratis yang diusung partainya lebih bergizi daripada program susu gratis.

Diketahui, Pembagian susu gratis merupakan salah satu program yang digelorakan Paslon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.

Dia mengatakan di dalam telur terkandung banyak vitamin. Selain itu juga mengandung protein, kalori dan juga berbagai jenis mineral. Sementara susu UHT mengandung gula yang cukup tinggi bagi anak-anak.

“Kami memberikan telur karena ini secara empiris menurut para ahli gizi telur kaya protein, bagus tidak hanya mencegah stunting, juga dalam pertumbuhan kecerdasan anak-anak kita,” ujar Hasto, Minggu (14/1/24) lalu.

Oleh karena itu, PDIP membagikan 1.500 butir telur kepada warga di kawasan Rumah Susun Tanah Tinggi, Senen, Jakarta Pusat, pada Minggu pagi.

Ribuan telur itu telah dipindang oleh warga setempat dan akan diberikan sebanyak tiga butir kepada setiap keluarga.

Selain itu, kata Hasto, telur diproduksi oleh rakyat Indonesia, berbeda dengan susu gratis yang diimpor, salah satunya dari Australia.

“Makanya kita membangun semangat berdikari di dalam mengatasi stunting. Jadi, telur ini sangat efektif itu berdasarkan penilaian dari ahli gizi,” jelasnya.

Hasto menjelaskan nantinya pembagian telur ini akan diintegrasikan ke program KTP Sakti (Satu Kartu Terpadu Indonesia) yang diusung pasangan calon nomor urut 3 Ganjar Pranowo-Mahfud Md.

KTP Sakti akan memastikan bantuan dari pemerintah tepat sasaran dan semakin mudah diakses. KTP Sakti akan mengintegrasikan semua data bantuan sosial (bansos) dan datanya juga akan selalu diperbarui.

KTP Sakti pun meminimalisasi masyarakat yang sudah mampu dan tidak berhak mendapatkan bantuan bisa dibereskan. Sementara yang kemudian jatuh miskin, bisa menerima bantuan.

BACA JUGA :   RSUD Menggala Luncurkan Layanan Baru

“Jadi, ketika satu data yang terus di-update, ada ibu-ibu hamil, misalnya, maka harus mendapatkan pelayanan dan pemenuhan kacang hijau yang kaya vitamin B, kemudian telurnya, beberapa suplemen dari daun kelor yang kaya dengan vitamin C. Itu semuanya akan diberikan pelayanan secara terintegrasi maka ada kebijakan satu data tersebut,” pungkas Hasto. (ant/dim)