Bandar Lampung — Universitas Teknokrat Indonesia menggelar pembekalan bagi asisten dosen dan instruktur untuk memperkuat kualitas pembelajaran serta pembinaan karakter mahasiswa. Dalam kegiatan tersebut, Wakil Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. H. Mahathir Muhammad, S.E., M.M., menegaskan bahwa predikat akreditasi unggul harus memberikan dampak nyata bagi mahasiswa, bukan sekadar menjadi pencapaian administratif kampus.
Dalam sambutannya, Dr. Mahathir menyampaikan bahwa Universitas Teknokrat Indonesia telah berkembang menjadi kampus unggul dan berprestasi, dengan capaian pemeringkatan di tingkat internasional. Namun, menurutnya, keberhasilan tersebut harus diiringi dengan peningkatan kualitas pembelajaran yang benar-benar dirasakan mahasiswa.
“Universitas Teknokrat Indonesia kini telah menjadi kampus yang unggul, berprestasi, dan meraih pemeringkatan di tingkat internasional. Akreditasi internasional dan akreditasi nasional Unggul yang kita raih adalah sebuah kebanggaan. Namun, pertanyaan terpentingnya adalah: apa dampaknya bagi mahasiswa?” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa akreditasi internasional menuntut sistem pembelajaran yang terstandar, mulai dari kurikulum, silabus, hingga Rencana Pembelajaran Semester (RPS) yang berbasis outcome.
“Sistem pembelajaran kita kini setara dengan kampus-kampus internasional. Kita sudah menerapkan outcome-based education jauh sebelum program Kampus Berdampak diluncurkan pemerintah. Artinya, setiap pembelajaran harus menghasilkan karya, menghasilkan nilai, dan bermanfaat,” tegasnya.
Menurut Dr. Mahathir, hasil pembelajaran di Teknokrat harus diwujudkan dalam berbagai bentuk inovasi, seperti innovation expo, publikasi artikel ilmiah, keikutsertaan dalam konferensi, serta produk inovasi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, perusahaan, pemerintah, dan UMKM.
“Filosofinya sederhana: kita belajar sesuatu itu harus menghasilkan dan berguna, memiliki value tidak hanya untuk mahasiswa, tetapi langsung untuk masyarakat. Tidak harus menunggu setelah lulus, tetapi sejak menjadi mahasiswa sudah harus memberikan manfaat,” jelasnya.
Semangat tersebut, lanjutnya, sejalan dengan konsep Kampus Berdampak dan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
“Melalui SDG 4, kita menghadirkan pendidikan yang berkualitas dan berkarakter. Melalui SDG 8, kita menyiapkan lulusan yang berdaya saing dan siap bekerja. Melalui SDG 17, kita membangun kemitraan dengan sekolah, masyarakat, dan dunia industri. Itulah Kampus Berdampak yang sesungguhnya,” ungkapnya.
Prestasi Harus Diiringi Pembinaan Karakter
Dr. Mahathir juga mengingatkan bahwa Universitas Teknokrat Indonesia telah mengukir berbagai prestasi jauh sebelum memiliki fasilitas modern seperti saat ini. Menurutnya, semangat juara telah menjadi bagian dari karakter mahasiswa Teknokrat, baik di bidang robotik, bahasa Inggris, olahraga, maupun seni.
“Sebelum ada fasilitas seperti sekarang, kita sudah juara robot tingkat nasional. Sebelum ada prodi olahraga, kita sudah juara karate, taekwondo, basket, dan futsal. Tanpa prodi seni, kita juara vokal grup, paduan suara, dan tari. Itu karena kita memiliki semangat juara,” katanya.
Meski demikian, ia menekankan bahwa prestasi akademik dan nonakademik harus berjalan seiring dengan pembinaan karakter. Asisten dosen dan instruktur memiliki peran penting dalam mendukung proses pembelajaran serta membentuk mahasiswa yang tidak hanya cerdas dan berprestasi, tetapi juga berkarakter dan berakhlak mulia.
“Pendidik itu adalah pilihan. Pendidik itu bukan sekadar occupation atau pekerjaan. Pendidik itu adalah jiwa. Seorang pendidik harus memiliki semangat untuk membangun mahasiswanya agar berprestasi, berkarakter, dan berakhlak mulia,” pesannya.
Ia mengajak para asisten dosen dan instruktur untuk menjalankan peran pendampingan dengan ikhlas, disiplin, dan penuh kasih sayang, baik di dalam maupun di luar kelas. Pembinaan mahasiswa, menurutnya, tidak cukup hanya melalui proses perkuliahan, tetapi juga melalui keteladanan dan interaksi sehari-hari.
“Marahlah karena kasih sayang, bukan karena kebencian. Ingatkan mahasiswa untuk rapi, disiplin, tersenyum, dan percaya diri. Itu adalah bentuk kasih sayang seorang guru kepada muridnya. Jangan hanya kuliah pulang, kuliah pulang. Milikilah jiwa sosial dan jiwa untuk memberi nilai bagi masyarakat,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa kontribusi seorang pendidik tidak hanya diukur dari ilmu yang disampaikan, tetapi juga dari nilai-nilai positif yang ditanamkan kepada mahasiswa.
“Kita membangun bangsa Indonesia ini tidak hanya dengan retorika, tetapi dengan aksi nyata setiap hari. Setiap ilmu yang kita bagikan, setiap senyum yang kita berikan, adalah ibadah,” tutup Dr. Mahathir.
Perkuat Kompetensi Asisten Dosen dan Instruktur
Dalam kegiatan pembekalan tersebut, peserta mendapatkan tiga materi yang relevan dengan penguatan kompetensi pendamping pembelajaran dan pembinaan mahasiswa.
Materi pertama, Classroom Management, disampaikan oleh Dr. Heri Kuswoyo, S.S., M.Hum. Ia menekankan pentingnya pengelolaan kelas yang efektif, interaktif, dan menyenangkan agar mahasiswa tidak hanya memahami materi, tetapi juga aktif, percaya diri, serta memiliki motivasi belajar yang tinggi.
Materi kedua, Etika Profesi Seorang Pendidik dan Asisten Dosen, disampaikan oleh Monica Septiani, S.I.Kom., M.B.A. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa pendidik harus menjadi teladan dalam sikap, tutur kata, dan integritas. Etika profesi menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan, wibawa, dan karakter mahasiswa.
Sementara itu, materi ketiga, Manajemen Lapangan, disampaikan oleh Dr. Aditya Gumantan, S.Pd., M.Pd. Ia menjelaskan strategi pembinaan mahasiswa di luar kelas, khususnya dalam kegiatan lapangan, pembinaan atlet, dan pendampingan lomba. Menurutnya, pendampingan yang baik membutuhkan perencanaan, kedisiplinan, kerja sama tim, serta pembinaan karakter yang berkelanjutan.
Melalui kegiatan pembekalan ini, Universitas Teknokrat Indonesia berharap asisten dosen dan instruktur semakin kompeten, profesional, dan solid dalam mendukung proses pembelajaran serta pembinaan mahasiswa. Tidak hanya membantu transfer ilmu, tetapi juga turut membentuk mahasiswa yang unggul, berprestasi, berkarakter, dan siap memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan bangsa. (*)







