JAKARTA – Ekspor minyak kelapa sawit Indonesia ke Israel masih berlangsung di tengah perang Gaza dan kuatnya dukungan politik pemerintah Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina. Data perdagangan terbaru menunjukkan ekspor *crude palm oil* (CPO) dan produk turunannya ke Israel mencapai 12.411,6 ton sepanjang Januari–September 2026, dengan nilai mencapai US$14,6 juta atau sekitar Rp261 miliar.
Kondisi tersebut disoroti pengamat Timur Tengah, Muhammad Zulfikar Rakhmat. Dalam opini yang diterbitkan *Middle East Monitor* pada 28 Oktober 2026, Zulfikar mengungkapkan bahwa perdagangan sawit Indonesia dengan Israel tetap berlangsung selama beberapa tahun terakhir, meskipun konflik di Gaza terus menimbulkan korban jiwa dan kehancuran.
Mengacu pada data Kementerian Pertanian dan Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mengekspor sekitar 29.600 ton produk minyak kelapa sawit ke Israel pada 2023. Jumlah itu turun menjadi 22.400 ton pada 2024 dan 19.500 ton pada 2025.
Sementara itu, sepanjang Januari–Agustus 2026, pengiriman produk sawit mencapai sekitar 10.400 ton. Indonesia juga mengirim hampir 4.900 ton produk kelapa ke Israel. Nilai perdagangan kedua komoditas tersebut selama delapan bulan mencapai sekitar US$20,8 juta.
Zulfikar menegaskan, penurunan volume ekspor tidak berarti perdagangan telah dihentikan.
“Jumlahnya memang menurun sejak 2023. Namun, perdagangan itu belum berhenti,” tulis Zulfikar dalam opininya di *Middle East Monitor*.
Temuan dua ekonom Universitas Widyatama juga menunjukkan Indonesia memasok rata-rata 71 persen dari total CPO yang dibeli Israel dari negara lain selama periode 2020–2025. Pada tahun-tahun tertentu, kontribusi tersebut bahkan disebut mencapai 88 persen.
Menurut Zulfikar, produk yang diperdagangkan mencakup olein sawit (*palm olein*), minyak inti sawit (palm kernel oil), dan gliserin. Sebagian pengiriman diduga melewati negara perantara seperti Singapura dan Hong Kong.
“Sebagian pengiriman kemungkinan terlebih dahulu transit melalui Singapura atau Hong Kong,” ungkap Zulfikar.







