Beranda Headline Didatangi MPR, Ketua PBNU “Usul” Presiden Dipilih Lewat MPR Lagi

Didatangi MPR, Ketua PBNU “Usul” Presiden Dipilih Lewat MPR Lagi

2296
0

Jakarta- Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) “usulkan” pemilihan presiden dan wakil presiden dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) lagi. Tidak lewat pemilihan langsung.

Ini dikatakan Ketua MPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) saat bertemu dengan Ketua PBNU Said Aqil Siradj di Jakarta (27/11/19).

Bamsoet menjelaskan bahwa usulan PBNU untuk memilih presiden melalui mekanisme MPR itu berdasarkan hasil Musyawarah Alim Ulama yang digelar di Pondok Pesantren Kempek Cirebon, Jawa Barat 2012 silam.

“Kami juga hari ini mendapat masukan dari PBNU berdasarkan hasil Munas PBNU sendiri di tahun 2012 di Cirebon yang intinya adalah PBNU merasa pemilihan presiden dan wapres lebih bermanfaat, bukan lebih baik, lebih tinggi kemaslahatannya lebih baik dikembalikan ke MPR ketimbang (dipilih rakyat) langsung,” ujar Bamsoet.

Bamsoet menambahkan bahwa PBNU melihat pemilihan presiden melalui mekanisme pemilihan langsung oleh masyarakat banyak mudarat ketimbang manfaatnya.

Tak hanya itu, Bamsoet mengatakan, di masa yang akan datang, PBNU mengusulkan untuk menghidupkan kembali utusan golongan di MPR.

Diketahui, utusan golongan pernah mengisi kursi di MPR sebelum amandemen 1945. Utusan itu merupakan anggota MPR yang berasal berbagai profesi.

Bamsoet mengatakan utusan golongan itu perlu dihidupkan kembali untuk mengakomodasi aspirasi dari kelompok minoritas yang ada di Indonesia.

“Karena keterwakilan yang ada di parlemen baik DPD, DPR belum yang mewakili aspirasi kelompok minoritas sehingga perlu dipikirkan kembali adanya keputusan golongan,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj mengatakan ide presiden kembali dipilih oleh MPR itu berawal dari para kiai-kiai senior NU dalam Munas Alim Ulama Cirebon tahun 2012 lalu.

Ia menyatakan para kiai-kiai senior NU menilai pemilihan presiden secara langsung menimbulkan ongkos politik dan ongkos sosial yang tinggi.

“Kemarin baru saja betapa keadaan kita mendidih, panas, sangat mengkhawatirkan. Ya untung tidak ada apa-apa. Tapi apakah lima tahun harus kaya gitu? Itu suara-suara para kiai pesantren yang semua demi bangsa demi persatuan,”ucap Aqil. (cni/dit)

Facebook Comments